ini adalah sebagian artikel yg berhasil aku kumpulkan dari sering2 temenan sama mbah gugel. Semoga bermanfaat bagi semuanya yaaa.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
APS SEBABKAN JANIN GUGUR (Nakita)
Jika bolak-balik keguguran akibat pertumbuhan janin terhambat atau bayi
selalu meninggal tak lama setelah dilahirkan dan ibu mengalami preeklampsia, jangan
kelewat menyalahkan diri. Siapa tahu sindrom ini yang jadi biang keladinya.
APS (Antiphospholid Syndrom) atau yang juga sering disebut sindrom ACA
(anticardiolipin) merupakan kelainan yang relatif baru di dunia kedokteran. Baik di
Indonesia maupun mancanegara. Di sini, jelas Prof. DR. Dr. Karmel L. Tambunan, DSPD,
KHOM, F.A.C.T.H., kasus-kasus APS baru "ditemukan" dan mendapat penanganan serius
sejak Oktober 1997. Dalam arti, setiap pasien yang darahnya dicurigai mengandung
antibodi antiphospholipid, dianjurkan menjalani tes ACA. Sayangnya, tes ini baru bisa
dilakukan di kota besar dan RS tertentu mengingat biayanya lumayan mahal, "Sekitar Rp
300 ribu untuk tiap pemeriksaan karena perangkatnya pun sangat mahal." Lewat
pemeriksaan ACA, jelas guru besar Fakultas Kedokteran UI yang mendalami APS ini, akan
diketahui kadar IgG dan IgM penderita. "Parameter laboratorium inilah yang bisa
dijadikan pegangan untuk memastikan terkena-tidaknya ACA karena APS tak memperlihatkan
gejala spesifik."
Gejalanya, jelas dr. Judi Januadi Endjun, SpOG, Sonologist, dari RSPAD
Gatot Subroto, Jakarta, yang ditemui terpisah, mirip dengan yang biasa dialami ibu
hamil. Semisal cepat lelah, mengantuk, sering pusing, dan sulit konsentrasi. Nah, pada
ibu hamil dengan APS, gangguan itu bukan semata karena kehamilan, namun karena adanya
kelainan akibat kekentalan darah yang dapat berpengaruh pada penurunan kemampuan
berbagai organ tubuh. Berbeda dengan kehamilan biasa yang kembali normal setelah 4
bulan, keluhan-keluhan APS akan terus berlangsung sepanjang kehamilan.
Ada pun gejala yang perlu dicermati berkaitan dengan APS adalah
peningkatan tekanan darah tanpa penyebab pasti karena sebelum hamil tekanan darahnya
normal. Peningkatan tekanan darah tersebut diduga akibat pengentalan darah yang
membuat aliran darah jadi tak sempurna lantaran fungsi organ-organ tubuh terganggu.
Bisa jadi itulah preeklampsia yang terutama terjadi pada trimester ketiga. Bahkan,
mereka yang APS-nya tergolong tingkat tinggi, bisa mengalami stroke atau kelainan
jantung di usia dewasa muda atau sebelum usia 40 tahun.
SUNTIK TIAP HARI
Menurut Karmel, berdasarkan kadar ACA-nya, penderita APS bisa
dikategorikan dalam 3 tingkatan. Tergolong mild jika IgG-nya berkisar antara 15-20,
moderate bila antara 20-80, dan high jika kadarnya di atas 80. Sedangkan tingkat
kekentalan darah bisa diketahui dengan mengukur cepat-tidaknya darah yang bersangkutan
membeku. Sebab, mereka yang terkena APS, darahnya akan lebih cepat membeku dibanding
mereka yang normal. "Kalau orang normal darahnya akan membeku dengan tolok ukur dalam
waktu 25-40 detik, maka darah penderita APS bisa kurang dari 25 detik sudah membeku."
Tentu saja kondisi pengentalan darah semacam ini buruk bagi ibu hamil,
terutama untuk janin. Sebab, terang Judi, kehidupan janin dalam kandungan sangat
tergantung dari suplai darah ibu lewat plasenta. Darah ibu inilah yang akan membawa
nutrisi dan oksigen pada janin. "Jadi, ibarat lalu lintas, kalau kendaraan padat
merayap atau malah terjadi kemacetan di sana-sini, waktu yang dibutuhkan untuk sampai
ke tempat tujuan, kan, jadi lebih lama."
Bila kondisi tersebut didiamkan, besar kemungkin janin akan gugur pada
masa embrio atau sebelum mencapai usia 8 minggu. "Sama halnya dengan tanaman yang baru
tumbuh, kalau tak pernah disiram, bakal layu lalu mati," imbuh Karmel. Kalaupun mampu
bertahan, umumnya akan lahir prematur atau setidaknya BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah)
akibat tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi dan oksigen.
Itu sebab, sambung Judi yang juga mengasuh Rubrik Tanya Jawab Kebidanan
dan Kandungan nakita, ibu hamil yang terkena APS perlu memeriksakan diri secara
teratur ke dokter ahli penyakit dalam untuk memantau kondisi darahnya, selain ke
dokter ahli kebidanan/kandungan yang akan memantau perkembangan janin lewat USG dan
pemeriksaan lain. Dari pemeriksaan laboratorium yang dilakukan 6 minggu sekali,
internis akan mengetahui kadar antibodi antiphospholipid pasien. Semakin tinggi
kadarnya, kian besar pula risiko terjadi keguguran. "Jadi, makin besar juga usaha yang
diperlukan untuk menurunkan kadar antibodi tersebut."
Dari hasil pemeriksaan, dokter ahli penyakit dalam sekaligus akan
menentukan terapi pengobatan, termasuk dosis yang tepat. Bila kadar antibodi
antiphospholipid masih dalam batas yang dianggap "aman", pengobatan cukup berupa
tablet sejenis aspirin. Hanya saja kemampuannya mempertahankan bayi hanya sekitar 40
persen. Pada pemeriksaan berikutnya, internis akan menilai respon pengobatan berdasar
hasil laboratorium terbaru. Bila dengan tablet tersebut kadar antibodi
antiphospholipid tetap atau bahkan meningkat, pemberian obat akan dibarengi suntikan
heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain sejenis yang harus dilakukan setiap
hari.
Suntikan tersebut relatif aman untuk wanita hamil karena terbukti tak
menembus barier plasenta, hingga tak ada kemungkinan terserap janin ataupun mengganggu
pertumbuhannya. Kendati begitu ada juga suntikan anti pembekuan darah bernama warparin
yang dilaporkan menimbulkan 25 persen kematian karena bisa menembus barier plasenta
hingga tidak diberikan pada ibu hamil.
MESTI BERANI
Kombinasi terapi obat dengan suntikan tersebut diharapkan mampu
meningkatkan peluang kesembuhan APS menjadi sekitar 74-96 persen. Demikian antara lain
hasil pengamatan Karmel terhadap 232 pasien APS-nya selama 3 tahun terakhir yang
baru-baru ini dilaporkan bersama timnya pada Kongres Trombosis Internasional di Paris.
Tentu saja, tegas Karmel dan Judi, obat-obatan yang diberikan pun dipilih yang paling
aman untuk wanita hamil.
Soal suntikan, karena harus dilakukan tiap hari, ibu hamil biasanya
diimbau untuk berani melakukannya sendiri agar tak terlalu tergatung pada dokter.
"Biayanya juga tak murah. Sekali suntik, Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu. Dan itu harus
dilakukan tiap hari selama kehamilan." Mahal, memang. Namun lewat suntikan inilah
diharapkan darah tak menjadi kental lagi.
Sebab, lanjut Karmel, obat-obatan yang disuntikkan itu pada prinsipnya
bukan bertujuan menurunkan antibodi antiphospholipid. "Melainkan menjaga agar antibodi
tersebut tak menyebabkan trombosis alias pengentalan darah. Yang bisa menurunkan
antibodi tersebut, ya, tubuh yang bersangkutan sendiri."
DISANGKA MUSUH
Dalam keadaan normal, jelas Karmel, antibodi sebetulnya merupakan
kumpulan protein yang dibentuk oleh sistem kekebalan tubuh untuk memerangi substansi
yang dianggap asing oleh tubuh. Di antaranya bakteri dan virus. Celakanya, tak jarang
bukan cuma bakteri dan virus yang dianggap sebagai benda asing, tapi juga sel-sel
tubuh si individu sendiri. Mekanisme "kesalahan menilai" inilah yang terjadi pada
kasus-kasus APS. Persisnya, tubuh mengeluarkan antibodi antiphospholipid yang
digunakan untuk menyerang phospholipid yang dianggap sebagai "musuh" meski sebetulnya
merupakan bagian dari membran sel. Padahal, kemunculan antibodi antiphospholipid
inilah yang membuat darah individu bersangkutan jadi lebih kental.
Dampak lebih jauh dari pengentalan darah ini adalah gangguan pembekuan
darah di pembuluh darah arteri, vena, maupun jantung. Tak heran bila si ibu jadi
terancam beberapa keluhan mematikan seperti jantung, preeklampsia dan stroke bila
pembekuan darah terjadi di otak. Atau gangguan penglihatan mata yang bisa
mengakibatkan kebutaan bila menyerang pembuluh-pembuluh darah di daerah mata. "Karena
itu perlu koordinasi antara dokter kandungan dengan ahli terkait. Bila ada gangguan
jantung, contoh, segera rujuk ke ahli jantung. Begitu pula jika ada keluhan di mata
secepat mungkin rujuk pasien ke ahlinya untuk meminimalkan risiko kebutaan."
Sedangkan risiko pada janin pun tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab,
jelas Judi, ibu hamil penderita APS dikhawatirkan tak bisa mencukupi suplai darahnya
ke plasenta bagi si janin. Padahal, kebutuhan janin akan terus meningkat seiring
dengan bertambahnya usia. Sementara di saat yang bersamaan antibodi antiphospholipid
yang terbentuk semakin banyak.
Akhirnya, kesenjangan ini akan semakin besar. Sementara tak ada yang
bisa memprediksikan seberapa lama janin akan mampu bertahan terhadap kesenjangan
tersebut.
Pada kasus-kasus semacam ini, lanjut Judi, sejak awal janin bisa saja
tak pernah terbentuk alias sudah meninggal dalam periode embrio sebelum mencapai usia
8 minggu. Selain kian berpeluang gugur atau lahir prematur mengingat grafik
pertumbuhannya biasanya jauh di bawah garis semestinya. Kalaupun mampu bertahan
umumnya lahir dengan berat rendah, janin mati dalam kandungan atau meninggal begitu
dilahirkan. Hanya saja, tegas Judi, perlu diingat, APS sama sekali tak menimbulkan
kecacatan seperti halnya penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksoplasma, misalnya.
TAK ADA KECACATAN
Sayangnya, pantauan di awal-awal kehamilan tergolong sulit karena si ibu
nyaris tak bisa berbuat apa-apa. Dalam arti, hingga 12 minggu pertama usia kehamilan,
ia tak tahu apakah perkembangan janinnya baik atau tidak karena relatif tak ada
perubahan fisik yang berarti alias sama saja dengan ibu hamil pada umumnya. Lain hal
bila sudah agak besar dan si ibu bisa merasakan gerakan janinnya. Semisal gerakan jadi
berkurang/melemah maupun pengukuran kesesuaian tinggi rahim dengan usia kehamilan
untuk menilai apakah pertumbuhan janin terganggu atau tidak. Bila si ibu kurus akan
lebih mudah dinilai, apakah besar kehamilannya cukup atau tidak. Sementara pada ibu
yang bertubuh subur, tumpukan lemak sering mengecoh. Dari penilaian ini pun, terang
Judi, bisa sekaligus dipantau apakah ada komplikasi preeklampsia yang menyertai atau
tidak. Antara lain bila si ibu cenderung mengalami penambahan berat badan berlebih
sementara bayinya tak berkembang.
Mengingat APS termasuk kehamilan berisiko tinggi, ungkap Judi, dokter
kandungan akan lebih saksama memeriksa/memantau perkembangan janin lewat USG, termasuk
mengikuti perkembangan plasentanya. Sebab, pada kasus-kasus APS, plasenta cenderung
gampang rusak dan kerusakan bisa terjadi kapan saja. "Padahal, pada ibu hamil dengan
kondisi normal, rusak sedikit saja berupa kebocoran kecil bisa berakibat fatal. Nah,
dapat dibayangkan apa yang terjadi pada ibu hamil dengan APS. Soalnya,kelangsungan
hidup janin amat bergantung pada kualitas plasenta."
Kendati begitu, tukas Judi dan Karmel, ibu hamil yang terkena APS tak
perlu kelewat pesimis. Sebab, dengan terapi pengobatan yang terkontrol dan terpadu di
antara para dokter ahli, kelainan ini bisa ditangani. Lewat terapi obat dan suntikan,
darah diharapkan semakin encer dengan bertambahnya usia kehamilan. "Dengan catatan, si
ibu harus rajin kontrol dan teratur menjalani terapi," tutur Judi.
Bahkan, tutur Karmel, selama ini anak-anak yang lahir dari ibu dengan
APS tak menunjukkan kelainan apa pun. "Mereka terlihat seperti layaknya anak-anak yang
dilahirkan dari ibu-ibu yang normal, kok. Tak ada kecacatan sama sekali. Sebab, obat
dan suntik yang diberikan memang dimaksudkan untuk memperbaiki aliran darah si ibu ke
janin. Kalau makin cepat terdeteksi, makin cepat pula aliran darah diperbaiki."
Memang, tambah Judi, bisa saja terjadi anak mengalami retardasi mental
akibat lingkar kepala kecil lantaran pertumbuhan yang terhambat. "Tapi, kan, kita
selalu harus mengembalikan segalanya pada kehendak Yang Maka Kuasa. Tak perlu pesimis,
apalagi sampai ambil keputusan untuk menggugurkan kandungan."
BISA LAHIR NORMAL
Mengingat kehamilan dengan APS termasuk kelompok kehamilan risiko
tinggi, Judi menyarankan agar ibu hamil menjaga kehamilannya ekstra hati-hati.
Artinya, seperti halnya menjalani kehamilan pada umumnya, ibu hamil disarankan tidur
minimal 8 jam, cukup istirahat dan menurunkan tingkat stres, di samping membina
kebiasaan makan yang benar, baik kualitas maupun kuantitasnya. Sedangkan aktivitas
lain bebas dilakukan sepanjang tidak membahayakan kehamilan.
Kendati belum diketahui pasti makanan apa saja yang bisa membantu
mengencerkan darah, ibu hamil dengan kelainan APS amat dianjurkan mengkonsumsi makanan
yang serba alami, yakni yang tak mengandung pengawet dan penyedap semisal junk food.
Tujuannya semata-mata untuk meminimalkan benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
Begitu juga paparan zat-zat kimia yang bisa menjadi pemicu, semisal insektisida dan
polusi udara. Juga infeksi virus maupun bakteri. Sebab, infeksi semisal herpes atau
tokso akan memperparah kondisi atau boleh jadi APS-nya dipicu oleh infeksi virus tadi.
Dianjurkan pula minum banyak air putih, minimal 2 liter sehari.
Masalahnya, mereka yang jarang minum dikhawatirkan darahnya mudah mengental, padahal
tubuh tetap melakukan penguapan lewat keringat dan cairan yang terbuang melalui BAK.
Meski tidak berarti air putih bisa langsung mengencerkan darah penderita.
Yang diduga menjadi salah satu pemicu APS adalah konsumsi obat-obatan
tertentu yang memunculkan antibodi antiphospholipid, semisal yang biasa dipakai dalam
pengobatan epilepsi. Sedangkan jenis virus dan bakteri bisa apa saja, namun tidak
semua virus/bakteri menimbulkan antibodi antiphospholipid. "Sama halnya dengan udang
yang bisa menimbulkan alergi berupa gatal-gatal pada orang yang satu, tapi tidak pada
yang lain."
Sedangkan untuk proses persalinan, menurut Karmel maupun Judi, pada
dasarnya tak berbeda dengan ibu hamil lainnya. Dalam arti, si ibu bisa tetap
melahirkan normal/spontan jika memang tidak ada indikasi lain. Hanya, tegas Karmel,
tim medis harus tetap bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya pembekuan darah
saat persalinan. Alasan ini pula yang dijadikan sebagai salah satu pertimbangan
diperlukannya tindakan sesar. Terlebih bila terjadi persalinan lama atau lebih dari 8
jam. "Semata-mata agar si ibu tidak terlalu lelah yang akan semakin memperburuk
kondisinya," ungkap Judi.
Th. Puspayanti. Ilustrasi : Pugoeh (nakita)
Kelompok Beresiko
Menurut Karmel maupun Judi, wanita hamil yang memiliki riwayat
ginekologis buruk semisal keguguran berulang, janin mati dalam kandungan dan
preeklampsia semasa kehamilan terdahulu memang berpeluang lebih besar terkena APS pada
kehamilan-kehamilan berikutnya. Ancaman serupa juga perlu diwaspadai oleh pria dan
wanita tak hamil yang mengidap penyakit "kerabat" pembuluh darah semisal jantung dan
stroke.
Hanya saja, tandas Karmel dan Judi, bukan cuma mereka, lo, yang
terancam. Pasalnya, sindrom yang satu ini bisa mengena siapa saja: laki-laki maupun
perempuan, kelompok berumur alias tua maupun yang masih muda belia. Karena selain
hal-hal yang diduga yang menjadi pemicu di atas, siapa pun berkemungkinan terkena APS
tanpa sebab yang pasti.
Yanti
NO. 30/XXX/24 - 30 September 2001
Kesehatan
Kehamilan
Bila Janin Dianggap Benda Asing
Keguguran berkali-kali bisa disebabkan oleh antibodi si ibu yang membuat janin tak
bisa berkembang. Dengan deteksi dan terapi dini, keguguran semacam itu bisa dicegah.
------------------------------------------------------------------------------
KALAU saja semua berjalan lancar, Eni—sebut saja begitu—mestinya sudah menjadi ibu
empat orang anak. Namun, ”bayi-bayi” yang dikandungnya tak pernah betah tinggal di
rahimnya. Kehamilannya selalu berakhir ketika usia janin baru berjalan sekitar tiga
minggu.
Keguguran berulang itu tentu saja tak di-kehendaki wanita berusia 35 tahun ini.
Namun, tanpa disadarinya, justru tubuhnya sendiri yang telah memaksa janin keluar
sebelum waktunya. Ternyata, Eni mempunyai antibodi yang ke-lewat aktif menyensor benda
asing—termasuk janin—dalam tubuhnya. Anticardiolipin namanya. Antibodi itulah yang
merusak plasenta sehingga bayi kehilangan saluran untuk mengakses makanan dan oksigen
yang dibutuhkannya. Tapi kenapa antibodi itu memboikot makanan sumber penghidupan
jabang bayi? Itulah yang sampai sekarang masih belum jelas.
Meski sudah diketahui sejak 1985, anticardiolipin memang masih termasuk ”benda
asing” dalam dunia kedokteran. Masih banyak hal yang belum terungkap. Bagi Karmel L.
Tambunan, guru besar penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI),
antibodi yang bisa menyumbat di mana-mana hingga menyebabkan serangan stroke, gagal
jantung, varises, buta, dan tuli itu termasuk pengetahuan yang tergolong baru. Tak
mengherankan bila antibodi ini menjadi salah satu bahasan menarik dalam Kongres
Nasional Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia IX, di Semarang, awal
September lalu.
Antibodi anticardiolipin tidak dimiliki se-tiap orang. Menurut dokter kebidanan dan
kandungan Hasnah Siregar, ada orang tertentu yang memiliki antibodi itu karena bawaan.
Pada perempuan hamil, kandungan antibodi anticardiolipin yang tinggi menyebabkan
penggumpalan darah (trombosis) yang akhirnya menyumbat plasenta. Akibatnya, sel darah
merah yang membawa pasokan zat gizi dan oksigen tidak tersalur ke bayi. Buntutnya,
jika tidak keguguran, biasanya janin tidak berkembang atau mati dalam kandungan.
”Orang yang terserang antibodi anticardiolipin ini secara klinis memang dapat
dilihat jika wanita hamil mengalami keguguran berulang-ulang atau wanita berkeluarga
tidak hamil-hamil,” ujar Haryanto Reksodiputro, guru besar hematologi (ilmu darah) dan
onkologi (ilmu tentang kanker) dari FKUI. Sepanjang pengalaman Haryanto, 60 persen
kasus keguguran kandungan berulang disebabkan oleh serangan dari antibodi itu.
Memang tidak semua kasus keguguran berulang disebabkan oleh antibodi
anticardiolipin. Ada beberapa faktor yang harus dilihat sebelum mencurigai
anticardiolipin sebagai biang keladi keguguran berulang-ulang. Menurut Hasnah, ia akan
memeriksa apakah si ibu pernah mengalami tiga kali keguguran atau lebih secara
berurutan tanpa sebab jelas. Ia juga akan menelisik terjadinya kematian fetus, apakah
setelah 10 minggu usia kehamilan atau tidak. Kadang-kadang kelahiran prematur atau
kehamilan yang bisa mencapai 34 minggu tapi disertai keracunan (preeklamsia) berat
atau kelainan pada plasenta juga bisa menggiring kecurigaan terhadap aktivitas
antibodi anticardiolipin. Pendeknya, ”Tidak semua kejadian keguguran langsung bisa
dinyatakan sebagai kasus anticardiolipin,” ujar Hasnah. Keguguran, katanya, bisa juga
disebabkan oleh penyakit tumor atau infeksi.
Meski begitu, bagi wanita yang pernah keguguran, saat hamil lagi, disarankan
memeriksakan diri ke ahli kandungan atau ahli darah. Deteksi dini setidaknya
memungkinkan terapi segera yang bisa menghalangi aktivitas antibodi anticardiolipin
sebelum menggila dan menghabisi hidup jabang bayi. Terapi melawan antibodi ini
tampaknya cukup ampuh. Haryanto mencatat, dalam tiga tahun belakangan, di Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo terjadi 251 kasus keguguran berulang-ulang, tapi 95 persen di
antaranya bisa ditangani hingga para ibu itu berhasil mempunyai anak.
Bagaimana caranya? Pengobatan dilakukan, antara lain, dengan suntikan obat heparin
(antipembekuan) selama kehamilan. Obat ini menjamin bayi mendapat pasokan makanan yang
cukup. Lama pengobatannya sendiri bisa bervariasi. Menurut Hasnah, pemakaian obat akan
dihentikan pada tiga minggu sebelum waktu kelahiran bayi. Terapi Haryanto dan Karmel
agak berbeda. Mereka menyarankan agar obat diberikan terus hingga bayi lahir. Haryanto
menyarankan hingga 40 hari setelah kelahiran, sementara Karmel hanya melakukannya
hingga tiga hari setelah bayi lahir. Alasan Haryanto, obat akan mencegah ter-jadinya
trombosis pada ibu. Bila dihentikan sebelum 40 hari, gumpalan darah yang terjadi di
kandungan bisa masuk ke otak, paru-paru, atau tempat lain.
Perbedaan lama terapi itu boleh jadi karena pemahaman para dokter terhadap
anticardiolipin tidak sama. Bisa jadi pula itu karena misteri antibodi ini memang
belum seluruhnya terkuak. Namun, yang penting buat pasien, antibodi itu bukan momok
yang tak tertaklukkan. ”Memiliki antibodi anticardiolipin bukan berarti dunia menjadi
gelap. Itu bisa dinormalkan dengan terapi,” Hasnah menegaskan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber: http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg35846.html
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
APS SEBABKAN JANIN GUGUR (Nakita)
Jika bolak-balik keguguran akibat pertumbuhan janin terhambat atau bayi
selalu meninggal tak lama setelah dilahirkan dan ibu mengalami preeklampsia, jangan
kelewat menyalahkan diri. Siapa tahu sindrom ini yang jadi biang keladinya.
APS (Antiphospholid Syndrom) atau yang juga sering disebut sindrom ACA
(anticardiolipin) merupakan kelainan yang relatif baru di dunia kedokteran. Baik di
Indonesia maupun mancanegara. Di sini, jelas Prof. DR. Dr. Karmel L. Tambunan, DSPD,
KHOM, F.A.C.T.H., kasus-kasus APS baru "ditemukan" dan mendapat penanganan serius
sejak Oktober 1997. Dalam arti, setiap pasien yang darahnya dicurigai mengandung
antibodi antiphospholipid, dianjurkan menjalani tes ACA. Sayangnya, tes ini baru bisa
dilakukan di kota besar dan RS tertentu mengingat biayanya lumayan mahal, "Sekitar Rp
300 ribu untuk tiap pemeriksaan karena perangkatnya pun sangat mahal." Lewat
pemeriksaan ACA, jelas guru besar Fakultas Kedokteran UI yang mendalami APS ini, akan
diketahui kadar IgG dan IgM penderita. "Parameter laboratorium inilah yang bisa
dijadikan pegangan untuk memastikan terkena-tidaknya ACA karena APS tak memperlihatkan
gejala spesifik."
Gejalanya, jelas dr. Judi Januadi Endjun, SpOG, Sonologist, dari RSPAD
Gatot Subroto, Jakarta, yang ditemui terpisah, mirip dengan yang biasa dialami ibu
hamil. Semisal cepat lelah, mengantuk, sering pusing, dan sulit konsentrasi. Nah, pada
ibu hamil dengan APS, gangguan itu bukan semata karena kehamilan, namun karena adanya
kelainan akibat kekentalan darah yang dapat berpengaruh pada penurunan kemampuan
berbagai organ tubuh. Berbeda dengan kehamilan biasa yang kembali normal setelah 4
bulan, keluhan-keluhan APS akan terus berlangsung sepanjang kehamilan.
Ada pun gejala yang perlu dicermati berkaitan dengan APS adalah
peningkatan tekanan darah tanpa penyebab pasti karena sebelum hamil tekanan darahnya
normal. Peningkatan tekanan darah tersebut diduga akibat pengentalan darah yang
membuat aliran darah jadi tak sempurna lantaran fungsi organ-organ tubuh terganggu.
Bisa jadi itulah preeklampsia yang terutama terjadi pada trimester ketiga. Bahkan,
mereka yang APS-nya tergolong tingkat tinggi, bisa mengalami stroke atau kelainan
jantung di usia dewasa muda atau sebelum usia 40 tahun.
SUNTIK TIAP HARI
Menurut Karmel, berdasarkan kadar ACA-nya, penderita APS bisa
dikategorikan dalam 3 tingkatan. Tergolong mild jika IgG-nya berkisar antara 15-20,
moderate bila antara 20-80, dan high jika kadarnya di atas 80. Sedangkan tingkat
kekentalan darah bisa diketahui dengan mengukur cepat-tidaknya darah yang bersangkutan
membeku. Sebab, mereka yang terkena APS, darahnya akan lebih cepat membeku dibanding
mereka yang normal. "Kalau orang normal darahnya akan membeku dengan tolok ukur dalam
waktu 25-40 detik, maka darah penderita APS bisa kurang dari 25 detik sudah membeku."
Tentu saja kondisi pengentalan darah semacam ini buruk bagi ibu hamil,
terutama untuk janin. Sebab, terang Judi, kehidupan janin dalam kandungan sangat
tergantung dari suplai darah ibu lewat plasenta. Darah ibu inilah yang akan membawa
nutrisi dan oksigen pada janin. "Jadi, ibarat lalu lintas, kalau kendaraan padat
merayap atau malah terjadi kemacetan di sana-sini, waktu yang dibutuhkan untuk sampai
ke tempat tujuan, kan, jadi lebih lama."
Bila kondisi tersebut didiamkan, besar kemungkin janin akan gugur pada
masa embrio atau sebelum mencapai usia 8 minggu. "Sama halnya dengan tanaman yang baru
tumbuh, kalau tak pernah disiram, bakal layu lalu mati," imbuh Karmel. Kalaupun mampu
bertahan, umumnya akan lahir prematur atau setidaknya BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah)
akibat tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi dan oksigen.
Itu sebab, sambung Judi yang juga mengasuh Rubrik Tanya Jawab Kebidanan
dan Kandungan nakita, ibu hamil yang terkena APS perlu memeriksakan diri secara
teratur ke dokter ahli penyakit dalam untuk memantau kondisi darahnya, selain ke
dokter ahli kebidanan/kandungan yang akan memantau perkembangan janin lewat USG dan
pemeriksaan lain. Dari pemeriksaan laboratorium yang dilakukan 6 minggu sekali,
internis akan mengetahui kadar antibodi antiphospholipid pasien. Semakin tinggi
kadarnya, kian besar pula risiko terjadi keguguran. "Jadi, makin besar juga usaha yang
diperlukan untuk menurunkan kadar antibodi tersebut."
Dari hasil pemeriksaan, dokter ahli penyakit dalam sekaligus akan
menentukan terapi pengobatan, termasuk dosis yang tepat. Bila kadar antibodi
antiphospholipid masih dalam batas yang dianggap "aman", pengobatan cukup berupa
tablet sejenis aspirin. Hanya saja kemampuannya mempertahankan bayi hanya sekitar 40
persen. Pada pemeriksaan berikutnya, internis akan menilai respon pengobatan berdasar
hasil laboratorium terbaru. Bila dengan tablet tersebut kadar antibodi
antiphospholipid tetap atau bahkan meningkat, pemberian obat akan dibarengi suntikan
heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain sejenis yang harus dilakukan setiap
hari.
Suntikan tersebut relatif aman untuk wanita hamil karena terbukti tak
menembus barier plasenta, hingga tak ada kemungkinan terserap janin ataupun mengganggu
pertumbuhannya. Kendati begitu ada juga suntikan anti pembekuan darah bernama warparin
yang dilaporkan menimbulkan 25 persen kematian karena bisa menembus barier plasenta
hingga tidak diberikan pada ibu hamil.
MESTI BERANI
Kombinasi terapi obat dengan suntikan tersebut diharapkan mampu
meningkatkan peluang kesembuhan APS menjadi sekitar 74-96 persen. Demikian antara lain
hasil pengamatan Karmel terhadap 232 pasien APS-nya selama 3 tahun terakhir yang
baru-baru ini dilaporkan bersama timnya pada Kongres Trombosis Internasional di Paris.
Tentu saja, tegas Karmel dan Judi, obat-obatan yang diberikan pun dipilih yang paling
aman untuk wanita hamil.
Soal suntikan, karena harus dilakukan tiap hari, ibu hamil biasanya
diimbau untuk berani melakukannya sendiri agar tak terlalu tergatung pada dokter.
"Biayanya juga tak murah. Sekali suntik, Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu. Dan itu harus
dilakukan tiap hari selama kehamilan." Mahal, memang. Namun lewat suntikan inilah
diharapkan darah tak menjadi kental lagi.
Sebab, lanjut Karmel, obat-obatan yang disuntikkan itu pada prinsipnya
bukan bertujuan menurunkan antibodi antiphospholipid. "Melainkan menjaga agar antibodi
tersebut tak menyebabkan trombosis alias pengentalan darah. Yang bisa menurunkan
antibodi tersebut, ya, tubuh yang bersangkutan sendiri."
DISANGKA MUSUH
Dalam keadaan normal, jelas Karmel, antibodi sebetulnya merupakan
kumpulan protein yang dibentuk oleh sistem kekebalan tubuh untuk memerangi substansi
yang dianggap asing oleh tubuh. Di antaranya bakteri dan virus. Celakanya, tak jarang
bukan cuma bakteri dan virus yang dianggap sebagai benda asing, tapi juga sel-sel
tubuh si individu sendiri. Mekanisme "kesalahan menilai" inilah yang terjadi pada
kasus-kasus APS. Persisnya, tubuh mengeluarkan antibodi antiphospholipid yang
digunakan untuk menyerang phospholipid yang dianggap sebagai "musuh" meski sebetulnya
merupakan bagian dari membran sel. Padahal, kemunculan antibodi antiphospholipid
inilah yang membuat darah individu bersangkutan jadi lebih kental.
Dampak lebih jauh dari pengentalan darah ini adalah gangguan pembekuan
darah di pembuluh darah arteri, vena, maupun jantung. Tak heran bila si ibu jadi
terancam beberapa keluhan mematikan seperti jantung, preeklampsia dan stroke bila
pembekuan darah terjadi di otak. Atau gangguan penglihatan mata yang bisa
mengakibatkan kebutaan bila menyerang pembuluh-pembuluh darah di daerah mata. "Karena
itu perlu koordinasi antara dokter kandungan dengan ahli terkait. Bila ada gangguan
jantung, contoh, segera rujuk ke ahli jantung. Begitu pula jika ada keluhan di mata
secepat mungkin rujuk pasien ke ahlinya untuk meminimalkan risiko kebutaan."
Sedangkan risiko pada janin pun tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab,
jelas Judi, ibu hamil penderita APS dikhawatirkan tak bisa mencukupi suplai darahnya
ke plasenta bagi si janin. Padahal, kebutuhan janin akan terus meningkat seiring
dengan bertambahnya usia. Sementara di saat yang bersamaan antibodi antiphospholipid
yang terbentuk semakin banyak.
Akhirnya, kesenjangan ini akan semakin besar. Sementara tak ada yang
bisa memprediksikan seberapa lama janin akan mampu bertahan terhadap kesenjangan
tersebut.
Pada kasus-kasus semacam ini, lanjut Judi, sejak awal janin bisa saja
tak pernah terbentuk alias sudah meninggal dalam periode embrio sebelum mencapai usia
8 minggu. Selain kian berpeluang gugur atau lahir prematur mengingat grafik
pertumbuhannya biasanya jauh di bawah garis semestinya. Kalaupun mampu bertahan
umumnya lahir dengan berat rendah, janin mati dalam kandungan atau meninggal begitu
dilahirkan. Hanya saja, tegas Judi, perlu diingat, APS sama sekali tak menimbulkan
kecacatan seperti halnya penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksoplasma, misalnya.
TAK ADA KECACATAN
Sayangnya, pantauan di awal-awal kehamilan tergolong sulit karena si ibu
nyaris tak bisa berbuat apa-apa. Dalam arti, hingga 12 minggu pertama usia kehamilan,
ia tak tahu apakah perkembangan janinnya baik atau tidak karena relatif tak ada
perubahan fisik yang berarti alias sama saja dengan ibu hamil pada umumnya. Lain hal
bila sudah agak besar dan si ibu bisa merasakan gerakan janinnya. Semisal gerakan jadi
berkurang/melemah maupun pengukuran kesesuaian tinggi rahim dengan usia kehamilan
untuk menilai apakah pertumbuhan janin terganggu atau tidak. Bila si ibu kurus akan
lebih mudah dinilai, apakah besar kehamilannya cukup atau tidak. Sementara pada ibu
yang bertubuh subur, tumpukan lemak sering mengecoh. Dari penilaian ini pun, terang
Judi, bisa sekaligus dipantau apakah ada komplikasi preeklampsia yang menyertai atau
tidak. Antara lain bila si ibu cenderung mengalami penambahan berat badan berlebih
sementara bayinya tak berkembang.
Mengingat APS termasuk kehamilan berisiko tinggi, ungkap Judi, dokter
kandungan akan lebih saksama memeriksa/memantau perkembangan janin lewat USG, termasuk
mengikuti perkembangan plasentanya. Sebab, pada kasus-kasus APS, plasenta cenderung
gampang rusak dan kerusakan bisa terjadi kapan saja. "Padahal, pada ibu hamil dengan
kondisi normal, rusak sedikit saja berupa kebocoran kecil bisa berakibat fatal. Nah,
dapat dibayangkan apa yang terjadi pada ibu hamil dengan APS. Soalnya,kelangsungan
hidup janin amat bergantung pada kualitas plasenta."
Kendati begitu, tukas Judi dan Karmel, ibu hamil yang terkena APS tak
perlu kelewat pesimis. Sebab, dengan terapi pengobatan yang terkontrol dan terpadu di
antara para dokter ahli, kelainan ini bisa ditangani. Lewat terapi obat dan suntikan,
darah diharapkan semakin encer dengan bertambahnya usia kehamilan. "Dengan catatan, si
ibu harus rajin kontrol dan teratur menjalani terapi," tutur Judi.
Bahkan, tutur Karmel, selama ini anak-anak yang lahir dari ibu dengan
APS tak menunjukkan kelainan apa pun. "Mereka terlihat seperti layaknya anak-anak yang
dilahirkan dari ibu-ibu yang normal, kok. Tak ada kecacatan sama sekali. Sebab, obat
dan suntik yang diberikan memang dimaksudkan untuk memperbaiki aliran darah si ibu ke
janin. Kalau makin cepat terdeteksi, makin cepat pula aliran darah diperbaiki."
Memang, tambah Judi, bisa saja terjadi anak mengalami retardasi mental
akibat lingkar kepala kecil lantaran pertumbuhan yang terhambat. "Tapi, kan, kita
selalu harus mengembalikan segalanya pada kehendak Yang Maka Kuasa. Tak perlu pesimis,
apalagi sampai ambil keputusan untuk menggugurkan kandungan."
BISA LAHIR NORMAL
Mengingat kehamilan dengan APS termasuk kelompok kehamilan risiko
tinggi, Judi menyarankan agar ibu hamil menjaga kehamilannya ekstra hati-hati.
Artinya, seperti halnya menjalani kehamilan pada umumnya, ibu hamil disarankan tidur
minimal 8 jam, cukup istirahat dan menurunkan tingkat stres, di samping membina
kebiasaan makan yang benar, baik kualitas maupun kuantitasnya. Sedangkan aktivitas
lain bebas dilakukan sepanjang tidak membahayakan kehamilan.
Kendati belum diketahui pasti makanan apa saja yang bisa membantu
mengencerkan darah, ibu hamil dengan kelainan APS amat dianjurkan mengkonsumsi makanan
yang serba alami, yakni yang tak mengandung pengawet dan penyedap semisal junk food.
Tujuannya semata-mata untuk meminimalkan benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
Begitu juga paparan zat-zat kimia yang bisa menjadi pemicu, semisal insektisida dan
polusi udara. Juga infeksi virus maupun bakteri. Sebab, infeksi semisal herpes atau
tokso akan memperparah kondisi atau boleh jadi APS-nya dipicu oleh infeksi virus tadi.
Dianjurkan pula minum banyak air putih, minimal 2 liter sehari.
Masalahnya, mereka yang jarang minum dikhawatirkan darahnya mudah mengental, padahal
tubuh tetap melakukan penguapan lewat keringat dan cairan yang terbuang melalui BAK.
Meski tidak berarti air putih bisa langsung mengencerkan darah penderita.
Yang diduga menjadi salah satu pemicu APS adalah konsumsi obat-obatan
tertentu yang memunculkan antibodi antiphospholipid, semisal yang biasa dipakai dalam
pengobatan epilepsi. Sedangkan jenis virus dan bakteri bisa apa saja, namun tidak
semua virus/bakteri menimbulkan antibodi antiphospholipid. "Sama halnya dengan udang
yang bisa menimbulkan alergi berupa gatal-gatal pada orang yang satu, tapi tidak pada
yang lain."
Sedangkan untuk proses persalinan, menurut Karmel maupun Judi, pada
dasarnya tak berbeda dengan ibu hamil lainnya. Dalam arti, si ibu bisa tetap
melahirkan normal/spontan jika memang tidak ada indikasi lain. Hanya, tegas Karmel,
tim medis harus tetap bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya pembekuan darah
saat persalinan. Alasan ini pula yang dijadikan sebagai salah satu pertimbangan
diperlukannya tindakan sesar. Terlebih bila terjadi persalinan lama atau lebih dari 8
jam. "Semata-mata agar si ibu tidak terlalu lelah yang akan semakin memperburuk
kondisinya," ungkap Judi.
Th. Puspayanti. Ilustrasi : Pugoeh (nakita)
Kelompok Beresiko
Menurut Karmel maupun Judi, wanita hamil yang memiliki riwayat
ginekologis buruk semisal keguguran berulang, janin mati dalam kandungan dan
preeklampsia semasa kehamilan terdahulu memang berpeluang lebih besar terkena APS pada
kehamilan-kehamilan berikutnya. Ancaman serupa juga perlu diwaspadai oleh pria dan
wanita tak hamil yang mengidap penyakit "kerabat" pembuluh darah semisal jantung dan
stroke.
Hanya saja, tandas Karmel dan Judi, bukan cuma mereka, lo, yang
terancam. Pasalnya, sindrom yang satu ini bisa mengena siapa saja: laki-laki maupun
perempuan, kelompok berumur alias tua maupun yang masih muda belia. Karena selain
hal-hal yang diduga yang menjadi pemicu di atas, siapa pun berkemungkinan terkena APS
tanpa sebab yang pasti.
Yanti
NO. 30/XXX/24 - 30 September 2001
Kesehatan
Kehamilan
Bila Janin Dianggap Benda Asing
Keguguran berkali-kali bisa disebabkan oleh antibodi si ibu yang membuat janin tak
bisa berkembang. Dengan deteksi dan terapi dini, keguguran semacam itu bisa dicegah.
------------------------------------------------------------------------------
KALAU saja semua berjalan lancar, Eni—sebut saja begitu—mestinya sudah menjadi ibu
empat orang anak. Namun, ”bayi-bayi” yang dikandungnya tak pernah betah tinggal di
rahimnya. Kehamilannya selalu berakhir ketika usia janin baru berjalan sekitar tiga
minggu.
Keguguran berulang itu tentu saja tak di-kehendaki wanita berusia 35 tahun ini.
Namun, tanpa disadarinya, justru tubuhnya sendiri yang telah memaksa janin keluar
sebelum waktunya. Ternyata, Eni mempunyai antibodi yang ke-lewat aktif menyensor benda
asing—termasuk janin—dalam tubuhnya. Anticardiolipin namanya. Antibodi itulah yang
merusak plasenta sehingga bayi kehilangan saluran untuk mengakses makanan dan oksigen
yang dibutuhkannya. Tapi kenapa antibodi itu memboikot makanan sumber penghidupan
jabang bayi? Itulah yang sampai sekarang masih belum jelas.
Meski sudah diketahui sejak 1985, anticardiolipin memang masih termasuk ”benda
asing” dalam dunia kedokteran. Masih banyak hal yang belum terungkap. Bagi Karmel L.
Tambunan, guru besar penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI),
antibodi yang bisa menyumbat di mana-mana hingga menyebabkan serangan stroke, gagal
jantung, varises, buta, dan tuli itu termasuk pengetahuan yang tergolong baru. Tak
mengherankan bila antibodi ini menjadi salah satu bahasan menarik dalam Kongres
Nasional Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia IX, di Semarang, awal
September lalu.
Antibodi anticardiolipin tidak dimiliki se-tiap orang. Menurut dokter kebidanan dan
kandungan Hasnah Siregar, ada orang tertentu yang memiliki antibodi itu karena bawaan.
Pada perempuan hamil, kandungan antibodi anticardiolipin yang tinggi menyebabkan
penggumpalan darah (trombosis) yang akhirnya menyumbat plasenta. Akibatnya, sel darah
merah yang membawa pasokan zat gizi dan oksigen tidak tersalur ke bayi. Buntutnya,
jika tidak keguguran, biasanya janin tidak berkembang atau mati dalam kandungan.
”Orang yang terserang antibodi anticardiolipin ini secara klinis memang dapat
dilihat jika wanita hamil mengalami keguguran berulang-ulang atau wanita berkeluarga
tidak hamil-hamil,” ujar Haryanto Reksodiputro, guru besar hematologi (ilmu darah) dan
onkologi (ilmu tentang kanker) dari FKUI. Sepanjang pengalaman Haryanto, 60 persen
kasus keguguran kandungan berulang disebabkan oleh serangan dari antibodi itu.
Memang tidak semua kasus keguguran berulang disebabkan oleh antibodi
anticardiolipin. Ada beberapa faktor yang harus dilihat sebelum mencurigai
anticardiolipin sebagai biang keladi keguguran berulang-ulang. Menurut Hasnah, ia akan
memeriksa apakah si ibu pernah mengalami tiga kali keguguran atau lebih secara
berurutan tanpa sebab jelas. Ia juga akan menelisik terjadinya kematian fetus, apakah
setelah 10 minggu usia kehamilan atau tidak. Kadang-kadang kelahiran prematur atau
kehamilan yang bisa mencapai 34 minggu tapi disertai keracunan (preeklamsia) berat
atau kelainan pada plasenta juga bisa menggiring kecurigaan terhadap aktivitas
antibodi anticardiolipin. Pendeknya, ”Tidak semua kejadian keguguran langsung bisa
dinyatakan sebagai kasus anticardiolipin,” ujar Hasnah. Keguguran, katanya, bisa juga
disebabkan oleh penyakit tumor atau infeksi.
Meski begitu, bagi wanita yang pernah keguguran, saat hamil lagi, disarankan
memeriksakan diri ke ahli kandungan atau ahli darah. Deteksi dini setidaknya
memungkinkan terapi segera yang bisa menghalangi aktivitas antibodi anticardiolipin
sebelum menggila dan menghabisi hidup jabang bayi. Terapi melawan antibodi ini
tampaknya cukup ampuh. Haryanto mencatat, dalam tiga tahun belakangan, di Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo terjadi 251 kasus keguguran berulang-ulang, tapi 95 persen di
antaranya bisa ditangani hingga para ibu itu berhasil mempunyai anak.
Bagaimana caranya? Pengobatan dilakukan, antara lain, dengan suntikan obat heparin
(antipembekuan) selama kehamilan. Obat ini menjamin bayi mendapat pasokan makanan yang
cukup. Lama pengobatannya sendiri bisa bervariasi. Menurut Hasnah, pemakaian obat akan
dihentikan pada tiga minggu sebelum waktu kelahiran bayi. Terapi Haryanto dan Karmel
agak berbeda. Mereka menyarankan agar obat diberikan terus hingga bayi lahir. Haryanto
menyarankan hingga 40 hari setelah kelahiran, sementara Karmel hanya melakukannya
hingga tiga hari setelah bayi lahir. Alasan Haryanto, obat akan mencegah ter-jadinya
trombosis pada ibu. Bila dihentikan sebelum 40 hari, gumpalan darah yang terjadi di
kandungan bisa masuk ke otak, paru-paru, atau tempat lain.
Perbedaan lama terapi itu boleh jadi karena pemahaman para dokter terhadap
anticardiolipin tidak sama. Bisa jadi pula itu karena misteri antibodi ini memang
belum seluruhnya terkuak. Namun, yang penting buat pasien, antibodi itu bukan momok
yang tak tertaklukkan. ”Memiliki antibodi anticardiolipin bukan berarti dunia menjadi
gelap. Itu bisa dinormalkan dengan terapi,” Hasnah menegaskan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber: http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg35846.html

No comments:
Post a Comment